Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Perbanyaklah jumlah kalian

Saya merasa perlu menerjemahkan ini setelah melihat video ini, ,meskipun orang yang membacanya tidak sebanyak orang yang menonton video, semoga orang yang membacanya bisa mensharingnya ke orang yang jauh lebih banyak lagi. Farubba muballagin aw3a min saami3in.


oleh Dr Raghib Sirjani

Menarik untuk diperhatikan, kenapa banyak Pusat Pembatasan Kelahiran (Keluarga Berencana) di berbagai negara berpenduduk muslim, berada di bawah supervisi dari negara negara barat, Amerika paling depan, juga selalu disokong, baik dari segi materi ataupun teori teori ilmiah, oleh mereka.

Sebagian umat islam mungkin bertanya, apa yang membuat mereka begitu menunjukkan sikap 'kasihan' terhadap ledakan penduduk di negeri negeri muslim ? Apakah hati mereka, Amerika dan Eropa, telah tergerak melihat keadaan kaum muslimin yang sedang mengalami penderitaan sebagai akibat pertambahan penduduk ? Apakah Amerika yang berusaha untuk menekan jumlah kaum muslimin, berbeda dengan Amerika yang menjajah Irak, Afganistan, serta membantu zionis yahudi dalam menjajah Palestina ?

Tak diragukan lagi bahwa jumlah adalah sebuah kekuatan. Quantity is power. Negara yang berpenduduk banyak akan lebih diperhitungkan daripada negara yang berpenduduk sedikit. Orang yang tidak sependapat akan menyanggah; "bahwa kualitas lebih penting daripada jumlah, dan bahwa jumlah yang besar tapi tidak diimbangi dengan pembekalan yang matang hanya akan jadi buih yang tak berbobot." Namun sebelum mereka mengatakan ini, saya nyatakan, bahwa maksud saya sama sekali bukan jumlah tanpa pembekalan. Namun harus ada pembekalan yang baik dan khusus untuk jumlah ini sehingga nantinya menjadi tambahan kontribusi untuk negeri. Bukan beban.


Pemerintah yang bobrok mengkambinghitamkan kesalahan dan problematika yang dihadapinya kepada ledakan populasi. Salah seorang Menteri Kesehatan di sebuah negara muslim menyatakan : Pembatasan 2 anak perkeluarga akan membuat negara menghemat USD 35 miliyar untuk anggaran kesehatan dan pendidikan, dalam kurun waktu 20 tahun ke depan.

Namun mereka mereka lupa, jumlah uang yang terbuang karena kebobrokan mereka di pemerintahan lebih banyak dan berlipat daripada penghematan tersebut. Sebut saja kerugian negara yang disebabkan oleh penggelapan dana, transaksi yang tidak jelas, komisi yang terlalu besar, pembelian barang yang semestinya tidak diperlukan; mulai dari barang barang yang bersifat tersier dan hiburan malam, sampai pembelian senjata yang ternyata sudah tak berfungsi atau kadaluarsa. Belum lagi, kita tidak lupa, dana yang terbuang sia sia sebab pengelolaan yang tidak baik, meskipun dalam perencanaannya bagus. Lalu yang terbuang sebab perencanaan yang tidak baik, walaupun SDM-nya amanah.

Problem sesungguhnya sama sekali bukan pada jumlah penduduk. Problem sesungguhnya berada pada kebobrokan yang menghancurkan system. System pendidikan contohnya, tidak menjalankan bahkan sepersepuluh perannya. Lihat sekolah sekolah yang seharusnya penuh karena penduduk yang semakin banyak, tapi ini malah seperti ditinggal oleh penghuninya. Para guru dan muridnya berama ramai pindah ke Private Center. Hal tersebut terjadi di umumnya negara muslim.

Kita memerlukan jumlah SDM yang cukup untuk mengelola dengan baik tanah tanah di negara2 muslim. Kita perlu SDM yang cukup untuk menggali dan mengeluarkan karunia Allah dari perut bumi yang tersebar dimana mana. Kita perlu jumlah yang cukup untuk menggerakkan sektor produksi dan menggiatkan pabrik pabrik dan perusahaan, untuk mengelola lautan luas sebagai sumber daya dinikmati oleh banyak negara muslim, SDM yang cukup untuk belajar, berkreasi, berinovasi, dan melakukan penemuan penemuan baru. Kita perlu SDM yang cukup untuk membela negara, membentuk tentara yang kuat yang mampu melawan ambisi orang orang yang ingin menyerang dan mengeksploitasi negara.

Jumlah yang besar bila diimbangi dengan pembekalan yang baik adalah sebuah nikmat yang besar. Kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Maka karena itulah Rasulullah SAW bersabda, "Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain (HR abu Dawud dan An Nasa'i)”


Tentu saja maksud Rasulullah SAW bukan jumlah yang besar tapi tak berbobot. Namun beliau bemaksud agar kaum muslimin memperbanyak jumlah, dan di saat yang sama meningkatkan kualitas mereka.

Allah SWT sendiri menyebut banyaknya jumlah sebagai nikmat. Dia berfirman : "Dan ingatlah ketika kalian sedikit, maka Allah memperbanyak jumlah kalian" (Al A'raf : 86). Maka tidak boleh seorang sok berfilosofi, melupakan banyak variabel, dan hanya menyebutkan satu alasan yang itu pasti : Jumlah yang banyak butuh makan lebih banyak, dan sekolah lebih besar.

Wahai para orang yang ingin melemahkan kaum muslimin. Silahkan lihat jumlah penduduk di di negara negara 'maju' versi mereka : Amerika, 303,9 juta. China, 1,331 milyar. Jepang, 127 juta. Jerman, 87 juta. Perancis, 60,9 juta, Inggris, 60 juta. (sumber lihat disini). Lalu kita bertanya : Apakah jumlah ini melemahkan dan membebani negara, atau menjadi kekuatan produktif yang mendorong kemajuan negara ?

Kita bertanya-tanya juga : Kenapa pemerintah Prancis dan Jerman mendorong para warganya untuk bereproduksi ? Lalu kenapa pemerintah Amerika membuka lebar pintu imigrasi ke negaranya untuk siapapun di atas muka bumi ini.? Bahkan mereka diberikan kewarganegaraan Amerika. Lalu kenapa mereka memberikan kewarganegaraan Amerika untuk setiap bayi yang lahir di wilayah mereka ?

Hai kaum muslimin, saya tidak mengajak kalian untuk hanya memperbanyak jumlah. Rawatlah jumlah yang banyak itu dengan pengasuhan yang baik, pendidikan yang tepat, pengarahan yang baik, dan dengan niat shalihah demi meninggikan kalimat Allah di timur dan di barat.

Saya akan menutup tulisan saya dengan sebuah hadist dari Baginda Nabi SAW : Setiap Nabi telah dianugrahi ayat ayat dan memiliki pengikut yang beriman dengannya. Sedangkan aku telah dikaruniai wahyu yang diturunkan kepadaku, aku berharap akulah yang memiliki pengikut terbanyak pada hari kiamat nanti” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Semoga Allah selalu memuliakan islam dan kaum muslimin.

dialihbahasakan oleh Qudwah Sipit dari sini. .semoga bermanfaat.

Lihat tulisan ini dalam bentuk facebook note

Bencana

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anakanakmu yang kelaparan
Tuhan telah menegurmu
lewat semayup suara azan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang bergoncang
deru angin yang meraungraung kencang
hujan banjir yang melintang pukang
adakah kau dengar?
-Apip Mustopa-

Setiap bencana datang tiba tiba. Meski seringnya diawali oleh tanda tanda dan prediksi prediksi namun ia tetap saja datang tiba tiba. Dan ketika ketika bencana itu mengilat di depan matamu dan melahap apapun milikmu kau hanya bisa bisa berkata : Ya Allah, mengapa kau timpakan ini kepadaku?.

Lalu kau baru mengingat semua dosa dosa yang pernah kau lakukan, satu demi satu terpampang di hadapanmu,memori yang selama ini sangat sulit terbuka, terbuka begitu lancar, kau kehilangan banyak sesuatu yang kau kumpulkan bertahun tahun dalam beberapa kejapan mata, cepat nian, bahkan terlalu cepat, katamu.

Bersabar. Kata pendek sarat makna. Sering dianggap oleh yang terkena bencana sebagai sebuah dongeng sebelum tidur, padahal kesabaran adalah pekerjaan yang sangat mulia: Sesungguhnya Allah bersama orang sabar. bukanlah sekedar slogan kosong, itu adalah janji Allah.

Penyesalan itu di akhir. Dan tak ada manfaatnya. Kecuali apabila ia jadi pelajaran buat masa mendatang. Sesungguhnya bencana yang berentet –bukan hanya di Indonesia, bahkan di dunia—akhir akhir ini tak lain disebabkan laku manusia sendiri, mungkin akumulasi dosa manusia membuat bumi gerah dan penat, sehingga sedikit bergeliat untuk mengusir penat.

Suatu fakta yang paradoks, orang orang baik banyak yang terkena musibah, namun justru orang yang dikenal tidak baik luput dari bencana. Mungkin Allah kasihan melihat orang orang baik berada di tengah orang orang tidak baik, sehingga ia diambil Allah agar tak terhanyut mereka. Dan Allah juga kasihan pada orang yang tak baik, supaya mereka bertaubat dan mengambil pelajaran dari bencana.

Orang tua tak mungkin membiarkan anaknya main api yang akan membakar dirinya, atau merusak barang—milik siapapun, maka apa-bila mereka mendapati anaknya berbuat seperti itu, maka ia akan dinasehati, dan bila terus ndablek melakukanny maka ia akan diberi sedikit teguran yang agak keras, lalu pukulan, setidaknya jeweran atau cubitan. Semuanya karena sayang. Apabila orang tua telah kehilangan rasa sayangnya maka ia akan membiarkan anaknya berbuat munkar sehingga ia merasakan akibatnya sendiri.

Mungkin itulah analoginya, bencana bencana ini adalah ‘cubitan’ Allah agar kita tak jadi hamba bandel yang ngelunjak kepada-Nya, agar kita jadi hamba penurut yang disayang-Nya. Berarti Allah masih sayang karena kita masih diperingatinya. Bila tidak? Tentu Allah akan membiarkan kita mabuk lalai sehingga jatuh ke neraka.

Dan hamba yang tak kena ‘cubit’ bukannya hanya sekadar merasa lega atau sekedar kasihan pada saudaranya. (Salah satu) yang mesti dilakukannya adalah: Bagaimana agar ia tak terkena cubitan itu? Tentunya dengan cara menurut dan menghentikan kebiasaannya merusak bumi (salah satunya) dengan bermaksiat. Wallahu A’lam.


Amr Khaled @ Mansoura stadion

Semalam saya baru saja menyaksikan sebuah orasi besar. Seorang tokoh yang sangat dibanggakan masyarakat mesir. Terlihat dari jumlah yang hadir. Hampir satu stadion penuh. Disana saya tidak hanya melihat anak anak muda yang memanjat pagar stadion demi bersalaman dengan tokoh tersebut. Tapi juga orang orang tua yang membawa anak kecil mereka. Juga perempuan muda dan tua. Dan bukan hanya orang mesir yang hadir di sana, namun juga orang Malaysia dan Indonesia, diantaranya saya.


Semalam saya baru saja menyaksikan sebuah orasi besar. Seorang tokoh yang sangat dibanggakan masyarakat mesir. Terlihat dari jumlah yang hadir. Hampir satu stadion penuh. Disana saya tidak hanya melihat anak anak muda yang memanjat pagar stadion demi bersalaman dengan tokoh tersebut. Tapi juga orang orang tua yang membawa anak kecil mereka. Juga perempuan muda dan tua. Dan bukan hanya orang mesir yang hadir di sana, namun juga orang Malaysia dan Indonesia, diantaranya saya.

Sebelumnya saya hanya mengenal beliau melalui buku dan beberapa ceramahnya. Sejak dari Indonesia saya mendengar, bila beliau berceramah, maka toko toko akan tutup. saya kira tadinya itu hiperbola bin lebay. Namun ternyata setelah saya lihat itu beneran. Orang telah berkumpul sejak jam 3 sore untuk menunggu acara yang ternyata dimulai setelah maghrib. Untuk masuknya pun harus menunjukkan kartu identitas dan diperiksa badan dan barang bawaan. Kayak mau masuk tempat check-in di airport.

Ini bukan konser. Bukan juga sebuah event yang menghadirkan puluhan tokoh. Hanya 1 tokoh. Namun manusia memenuhi hampir semua tribun -kecuali satu tribun yang legang- untuk menyaksikannya. Ya, menyaksikan orasinya yang hanya sekitar setengah jam. Lalu beliau berkeliling lapangan untuk melambaikan tangan kepada para hadirin, dan dikerubungi para wartawan. Juga para anak muda yang memanjat manjat pagar pinggir stadion untuk sekedar bersalaman. Saya tidak menyangka kalau tokoh yang saya baca terjemahan bukunya ketika di Indonesia dulu, saya bisa menghadiri orasinya langsung dan menyaksikan beliau dengan mata kepala dari dekat. Sayang saya tidak bawa foto.

Poin poin yang beliau sampaikan adalah saat orasi adalah :

1. Kita harus mempunyai mimpi. –beliau cerita ada seorang warga Negara mesir di Inggris (beliau diusir dari Mesir oleh rezim

Mubarak, lalu tinggal di Lebanon, dan mengenyam pendidikan S3 di Inggris) ditanya oleh seorang Inggris : apa mimpi kamu. Si Mesir menjawab : mimpi saya adalah saya bisa bekerja dan hidup di negeri saya dengan merdeka. Lalu si inggris itu menjawab : itu bukan MIMPI kamu, itu adalah HAK kamu. Nah, mimpi kamu apa. (disini para hadirin bertepuk tangan).

beliau membaca syair :

وضعوني في اناء

ثم قالو لي تأقلم

وانا لست بماء

انا من طين السماء

واذا ضاق انائي بنموي ...يتحطم أو أتحطم

Mereka meletakkanku dalam sebuah teko

Kemudian berkata kepadaku : beradaptasilah dengan teko tersebut

Padahal aku bukan air

Aku adalah tanah dari langit

Bila tekoku ini jadi sempit karena aku tumbuh, ia akan hancur, atau aku yang hancur (disini para hadirin bertepuk tangan lagi.)

Beliau juga mewanti wanti bahwa mimpi tidak akan didapat dengan cara mudah. Tapi harus berkorban.

2. Kita akan berhasil melakukan sesuatu hari ini dengan sebab keberhasilan yang sama pada hari kemarin.

Contohnya bila kita (maksudnya rakyat Mesir) berhasil menumbangkan menumbangkan rezim Mubarak saat revolusi 25Januari dengan jargon iid wahdah = yadun waahidah (satu tangan). Maksudnya adalah satu barisan, kata beliau. Maka kita juga bisa menyempurnakan revolusi 25 Januari ini dengan iid wahdah juga.

3. Jangan lagi rendah diri, dan jagalah akhlak yang baik.

4. Bangsa mesir (karena orasi ini ditujukan ke bangsa Mesir) harus produktif.

Begitu kira kira inti yang disampaikan oleh beliau. Acara beliau di Mansoura Stadium ini diliput oleh berbagai stasiun TV Mesir. Ohya, saya belum memberitahu siapa beliau yang saya maksud. Beliau adalah Amru Khalid. Seorang yang tidak bebas tinggal di negaranya sendiri selama lebih dari satu windu terakhir. Diantara karya beliau yang telah di terjemahkan ke bahasa Indonesia adalah Ibadah Sepenuh Hati (AQWAM Publishing). Semoga catatan saya bermanfaat